MENU

Ratnasari Kurnia Hastuti, Juara 2 Lomba PTK JSIT Nasional - Kenalkan Metode Example dan Non-Example

Ratnasari Kurnia Hastuti, Juara 2 Lomba PTK JSIT Nasional - Kenalkan Metode Example dan Non-Example

Dulu hanya finalis, sekarang juara. Itulah pengalaman Ratnasari Kurnia Hastuti, wali kelas 3 SDIT Ummul Quro. Ia tak patah semangat ikut lomba Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tingkat nasional. Meski peringkat dua, hasilnya cukup membanggakan.

Lomba PTK yang diikuti Ratna merupakan lomba dalam rangka Munas Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) se- Indonesia di Lombok, beberapa minggu lalu.

Ratna mengatakan, ia mengirimkan metodenya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan materi sudut bangun datar dengan metode example non-example. Menggunakan alat bantu tak baku pada kelas 3C SDIT Ummul Quro Bogor.

“Dalam perlombaan ini, yang dilihat bagaimana meningkatkan minat belajar siswa melalui aspek afektif, kognitif, dan psikomotornya. Kalau dalam PTK saya, saya bagi menjadi beberapa siklus pada anak,” jelasnya kepada Radar Bogor.

Pertama, yaitu prasiklus, di mana ia menjelaskan problem best learning. Ratna hanya memberikan masalahnya tanpa menggunakan media apa pun, seperti sebuah soal. Masuk ke siklus pertama, di mana dirinya mulai memberikan contoh, seperti gambar, benda dalam bentuk riil di sekitar anak-anak.

Selanjutnya, masuk ke siklus kedua. Siklus kedua sudah menggunakan alat bantu. Misalnya dengan membuat sebuah sudut dari sebuah karton yang dipotong-potong membentuk sudut, sehingga menjadi alat ukur anak.

“Terbukti dengan siklus dua, hasil pembelajaran anak-anak meningkat. Dari situ saya membuat paper. Saya kirim melalui e-mail ,” ungkap ibu dua anak itu.

Kata dia, dari 90 PTK masuk, hanya 5 PTK yang terpilih maju ke final, salah satunya PTK Ratna. Lalu, ia diundang ke final di Lombok untuk melakukan presentasi. Selama tiga hari, dirinya sendiri tanpa ada satu pun teman dari Bogor yang ia kenal.

“Pengalaman menarik lagi, saya benar-benar mengurus apa-apa sendiri, dari Bogor sampai Lombok dan tidur pun di penginapan sendiri, peserta lainnya membawa rombongan dan memilih tinggal bersama,” ungkapnya.

Parahnya lagi, contoh alat peraga yang harus ditunjukkan dalam presentasi pun ketinggalan di Bogor lima jam sebelum dirinya presentasi. Alhasil, Ratna berkeliling mencari toko kertas terdekat dengan penginapan dan membuatnya kembali.

“Alhamdulillahnya, saya diingatkan alat peraga ketinggalan masih pagi, saya presentasi siang, kebetulan juga alat peraganya tidak sulit, dari karton biasa, dan alhamdulillah semua berjalan lancar,” tandas Ratna.

Sumber : Radar Bogor Edisi Selasa, 26 September 2017 Halaman 13

KOMENTAR