MENU

Kisah Ulat Bulu dan Kupu-kupu

Suatu ketika ada seorang ibu yang memiliki hobi bertaman. Dia memiliki rumah dengan halaman yang sangat luas, rumahnya penuh dengan berbagai tanaman, dengan berbagai bunga yang bermekaran. Setiap hari si ibu mengurusi tanamannya, dia pupuk, dia sirami hingga tumbuh subur dan terlihat suasananya begitu asri dan indah sekali.

 

Setelah selesai mengurusi tamannya biasanya si ibu duduk di beranda rumahnya sambil memandangi keindahan tamannya dari kejauhan. Pada saat dia sedang terhanyut oleh keindahan tamannya tiba-tiba tersirat sebuah pikiran, seandainya saja banyak kupu-kupu yang datang beterbangan di tamanku ini, aduh alangkah indahnya ya, pikirnya dalam batin. Lalu tanpa sadar dia mulai memanjatkan doa dalam hati : Ya Tuhan, aku ingin tamanku dipenuhi oleh berbagai macam kupu-kupu yang beterbangan agar tampak semakin indah dan cantik. Semoga saja Tuhan mendengarkan doaku, pikirnya dalam hati.

 

Setelah kejadian itu, si ibu mulai semakin sering mengintip tamannya dari dalam rumah, kalau-kalau saja kupu-kupu yang dimintanya dalam doa sudah datang. Namun akhirnya dia mulai kecewa, setelah satu bulan ditunggunya ternyata kupu-kupu yang dimaksud tidak kunjung datang. Dan yang lebih membuat dirinya kecewa, bukannya kupu-kupu yang datang malah kini tamannya dipenuhi oleh ulat disana sini yang melahap sebagian besar pohon-pohon yang ada di tamannya tersebut.

 

Lalu si ibu dengan berbagai cara berusaha untuk mengusir ulat-ulat tersebut, bukannya pergi malah kini badan si ibu jadi gatal semua karenanya. Akhirnya dia pasrah dan karena kecewa dia mulai tidak lagi rajin mengurusi tamannya. Sebagian besar tanamannya yang diserang ulat mulai dipindahkan ke dalam gudang, hingga yang tersisa di luar tinggal sebagian saja.

 

Lama setelah kejadian itu, si ibu masih berusaha merawat tanaman yang tersisa. Sambil merawat si ibu kini jadi sering mengeluh dan mengumpat dalam hati : dasar ulat-ulat tak tahu diri, berani-beraninya merusak tamanku, pikirnya dalam hati.

 

Namun, pada suatu pagi betapa kagetnya dia ketika membuka pintu gudang seperti biasa untuk mengambil peralatan kebunnya. Sungguh terkejut dia ketika membuka pintu gudangnya ternyata di dalam gudang tersebut penuh dengan kupu-kupu indah yang beterbangan kesana kemari. Dan ketika pintu di buka lebar, kupu-kupu mulai terbang keluar memenuhi taman si ibu mencari sari bunga yang ada di sana.

 

Sungguh si ibu terkagum-kagum dengan kejadian ini. Sambil berdiri di pintu gudang dia memandang jauh ke tamannya sambil terkagum-kagum. Kini tamannya terlihat semakin indah dihiasi oleh kupu-kupu yang jumlahnya banyak sekali.

 

Si ibu ini berpikir dalam hati, darimana gerangan datangnya kupu-kupu sebanyak ini? Aha, dia baru ingat akan ulat-ulat  yang memakan tanamannya, yang dulu dia pindahkan ke dalam gudang. Dia tidak menyadari bahwa ulat-ulat yang dulu dia benci dan dia singkirkan ke gudang itu kini telah berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan membahagiakan.

 

Bapak dan Ibu guru yang berbahagia, seringkali kita berdoa kepada Allah supaya dikaruniai anak-anak yang baik dan sempurna. Namun, sering kali yang datang adalah anak-anak yang keras kepala, hiperaktif dan sebagainya, yang membuat kita sebagai orangtua dan guru merasa kecewa dan sering mengeluh. Padahal sejarah banyak yang telah membuktikan bahwa anak-anak keras kepala yang dibesarkan dengan baik justru banyak yang jadi pemimpin dan negarawan hebat, dan anak-anak hiperaktif yang dibesarkan dengan tepat banyak yang berhasil menjadi pemilik beberapa perusahaan dan bisnis sekaligus.

Mungkin mirip dengan kisah ulat-ulat tadi, anak-anak kita sesungguhnya perlu waktu untuk bisa bermetaformosis untuk menjadi manusia-manusia yang luar biasa di masa depan. Namun jika kita tidak berhasil membantunya untuk bermetamorfosis secara sempurna tentu kelak anak kita tidak akan pernah berhasil untuk menjadi orang yang hebat sebagaimana kupu-kupu yang indah tadi.

 

Mulai saat ini mari kita terima dengan rasa syukur anak-anak kita, anak-anak didik kita, betapapun mereka sering membuat kita kesal dan kewalahan. Mari kita berhenti mengeluh, melainkan belajar untuk mendidik mereka secara tepat agar mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dan membahagiakan orang tuanya.

 

Sumber : Buku I Love U Ayah Bunda – Ayah Edi

 

KOMENTAR